JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

FPKDM Dorong Perlindungan Danau Lewat Festival Featured

Selasa, 01 Mei 2018 00:00 Written by  Sharif Jimar
Masyarakat membersihkan salah satu dari tiga danau di Kompleks Danau Malili, Kabupaten Luwu Timur, rangkaian Festival Kompleks Danau Malili. Masyarakat membersihkan salah satu dari tiga danau di Kompleks Danau Malili, Kabupaten Luwu Timur, rangkaian Festival Kompleks Danau Malili. Foto:Sharif

JURnaL Celebes. Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM) menggelar Festival Kompleks Danau Malili memeriahkan Hari Jadi ke-15 Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Festival yang dihelat mulai 29 April hingga 1 Mei 2018. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendorong perlindungan Kompleks Danau Malili. Festival diisi berbagai kegiatan antara lain pembersihan serentak tiga danau Matano, Towuti dan Mahalona, sarasehan, serta lomba foto selfie di danau.

Kegiatan ini digelas atas kerjasama FPKDM dengan Perkumpulan Wallacea, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM), Burung Indonesia, Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) Wallacea, dan Pemkab Lutim.

Festival ini  dimulai dengan aksi bersih tiga danau di Kompleks Danau Malili masing-masing Danau Matano, Danau Towuti dan Danau Mahalona. Kegiatan pembersihan juga dirangkaikan dengan lomba foto selfie di danau.

Lewat festival ini FPKDM ingin menggugah upaya perlindungan ekosistem Kompleks Danau Malili yang merupakan danau purba tektonik itu. Hari berikutnya 30 April dilaksanakan sarasehan perlindungan Kompleks Danau Malili.

Sarasehan ini menghadirkan narasumber antara lain dari Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM), Pokja Masyarakat Sipil Kementerian Desa dan Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria, Kepala BKSDA Sulsel, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulsel, Sri Endang Sukarsih, Burung Indonesia, Ketua Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM) Luwu Timur, Kepala Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA).

Sarasehan dihadiri 61 peserta berasal dari berbagai utusan, yaitu: SKPD terkait lingkup Pemprov Sulsel dan Pemkab Lutim, Forum Danau (Desa/Kabupaten), pemerintah desa, P3MD, Karang Taruna (desa/kabupaten), BKSDA, CSO, PT Vale, dan akademisi.

Peluang penggunaan dana desa dalam  mendorong perlindungan ekosistem Kompleks Danau Malili, dapat digunakan dengan melakukan musyawarah Bersama 30 tokoh kunci yang ada di desa,“ ujar Idham Arsyad, Ketua Pokja Masyarakat Sipil Kementerian Desa dan Dewan Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria.

Sementara itu Ria Saryanthi dari Burung Indonesia menekankan pentingnya perlindungan ekosistem karena danau-danau di Kompleks Danau Malili memiliki keragaman hayati dan berbagai hewan dan tumbuhan endemik.

“Di kawasan Wallacea Sulawesi menjadi area keragaman hayati kunci (Key Biodiversity Areas/KBA) terbanyak dengan 95 KBA darat dan 48 KBA laut, termasuk Malili,“ ujar ria.

Menurut Ketua FPKDM, Zainuddin, mengingat tanggung jawab menjaga Kompleks Danau Malili ini bukanlah tugas kecil. Karenanya, harus menjadi tanggung jawab bersama dalam melibatkan banyak pihak. Meskipun aksinya dimulai dari tindakan kecil seperti aksi individu masyarakat dan aksi dari pemerintahan terkecil seperti desa.

‘’Perlunya aksi bersama ini yang melatarbelakangi lahirnya forum danau di kabupaten akan menjadi wadah bersama yang keanggotaannya berasal dari desa-desa di sekitar Kompleks Danau Malili, serta pihak yang berkepentingan terutama pengambil kebijakan.  Semuanya perlu aksi bersama terhadap perlindungan ekosistem Kompleks Danau Malili,’’ papar Zainuddin. 

Terkait dengan hal tersebut, Perkumpulan Wallacea, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) dan Burung Indonesia bersama CEPF Wallacea mengajak para pihak untuk bersama-sama membangun komitmen mendukung Pengelolaan Kompleks Danau Malili Kabupaten Luwu Timur dengan melibatkan banyak pihak, karena berbicara penyelamatan Kompleks Danau Malili bukan hanya menangani danaunya saja, akan tetapi perlu melihat keterpaduan antara hulu dengan hilir.

Ini berarti bahwa penanganan Daerah Tangkapan Air (DTA) Kompleks Danau Malili menjadi bagian yang sama pentingnya dengan badan danaunya.

Last modified on Selasa, 01 Mei 2018 18:50
Read 205 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan