JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Dialog Kelistrikan dan Peluncuran Buku Featured

Jumat, 29 September 2017 00:00 Written by 
Tari Empat Etnis dari Sanggar Passareanta ditampilkan dalam pembukaan Dialog Publik dan Peluncuran Buku Berebut Cahaya di Mahalona: Potret Kelistrikan di Sulsel, di Hotel Horison Makassar, 28 September 2017 Tari Empat Etnis dari Sanggar Passareanta ditampilkan dalam pembukaan Dialog Publik dan Peluncuran Buku Berebut Cahaya di Mahalona: Potret Kelistrikan di Sulsel, di Hotel Horison Makassar, 28 September 2017 mus

JURnaL Celebes. Salah satu exit strategy kerjasama JURnaL Celebes dengan Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia) adalah penulisan buku pembelajaran. Judulnya Berebut Cahaya Mahalona: Potret Kelistrikan di Sulsel. Buku tentang persoalan kelistrikan di Sulawesi Selatan tersebut diluncurkan di Hotel Horison Makassar, 28 September 2017. Peluncuran dihelat dalam kegiatan Dialog Publik tentang Kelistrikan di Sulawesi Selatan.

Narasumber dialog ini masing-masing Toni Wahyu Wibowo dari PLN Wilayah Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat, Muh. Bachtiar Nappu, Ph.D Ketua Program Studi Kelistrikan Universitas Hasanuddin, Sekretaris Yayasan Konsumen Sulawesi Selatan, Judy Rahardjo, dan Achmad Habib dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Sulawesi Selatan.

Dalam publik berlangsung dinamis. Berbagai persoalan kelistrikan di Sulawesi Selatan mengemuka dalam dialog. Mulai dari masalah pemadaman lampu rutin, kerugian konsumen akibat padamnya listrik, masih rendahnya kualitas layanan PLN, monopoli PLN dalam pemenuhan kebutuhan listrik, listrik prabayar yang dianggap merugikan konsumen, serta masalah pungli pemasangan jaringan.

Dialog ini menyimpulkan untuk pengembangan kelistrikan di Sulawesi Selatan ke depan adalah perbaikan kualitas dan transparansi dalam pelayanan. Persoalan kekurangan daya dianggap telah terpenuhi. PLN Wilayah Sulselrabar tahun 2017 ini surplus daya 250 MW. Peserta dialog mengharapkan surplus listrik itu tidak semata diperuntukkan bagi investor ke Sulsel, tetapi juga memrioritaskan pemenuhan listrik di desa-desa.

Ke depan, PLN juga diharapkan memaksimalkan pengembangan energi listrik terbarukan, dengan pola pemberdayaan masyarakat untuk membangun kemandirian energi. Sulawesi Selatan memiliki banyak sumber energi terbarukan, namun serius diperhatiani. (mus)

Last modified on Kamis, 26 Oktober 2017 08:14
Read 177 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan