JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Dari Mahalona, Memotret Kelistrikan Sulsel

Kamis, 28 September 2017 00:00 Written by  Sharif

JURnaL Celebes. Buku ini diberi judul Berebut Cahaya di Mahalona: Potret Kelistrikan di Sulsel. Buku 186 halaman ini diterbitkan oleh JURnaL Celebes sebagai pembelajaran dari proyek kerjasama dengan Millennium Challenge Account Indonesia (MCA-Indonesia).

Mulai Agustus 2016, JURnaL Celebes yang berkonsorsium dengan Perkumpulan Wallacea di Palopo dan Empati di Luwu Timur melaksanakan Proyek Pembangunan PLTMH untuk Peningkatan Kesejahteraan dan Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan di Desa Buangin, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Kegiatan ini didukung oleh MCA-Indonesia lewat Proyek Kemakmuran Hijau, Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat (PSDABM). JURnaL Celebes dan konsorsium rencananya membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), pengembangan usaha untuk masyarakat, konservasi lingkungan dengan tanaman penghijauan multiguna, serta penguatan kelembagaan pemerintah desa dan penguatan ekonomi di bawah payung Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

Namun, dalam proses, pembangunan PLTMH tidak dilanjutkan karena tiba-tiba ada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dari Kementerian Desa dan Transmigrasi di lokasi yang sama. Selain itu, di lokasi itu juga serta-merta masuknya jaringan listrik PLN.

JURnaL Celebes kemudian melaksanakan exit strategy proyek ini dengan melanjutkan komponen kegiatan penghijauan di daerah tangkapan air untuk melestarikan lingkungan. Selain itu menyusun Peraturan Desa (Perdes) untuk perlindungan dan pelestarian kawasan tangkapan air di Desa Buangin.

Penulisan buku ini merupakan bagian dari exit strategy proyek. Karenanya buku ini menjadikan pengalaman tentang kelistrikan di Desa Buangin yang merupakan salah satu desa di Kawasan Terpadu Pengembangan Mahalona Raya. Dari Mahalona ada probelm kelistrikan di antaranya tumpang tindih perencanaan pembangunan terutama di bidang energi. Di Desa Buangin, dalam satu tahun, terjadi tumpang tindih perencanaan. Ada proyek PLTMH bantuan luar negeri lewat Bappenas memalui MCA-Indonesia. Namun, dalam proses, tiba-tiba ‘’diserobot’’ oleh proyek PLTS dari Kementerian Desa. Lalu, datang PLN ‘’menggencet’’ proses pembangunan pengadaan energi yang sudah ada.

Berangkat dari pengalaman di Mahalona Raya, buku ini kemudian merefleksikan problem kelistrikan di Sulawesi Selatan. Berbagai masalah di antaranya monopoli pengadaan energi listrik oleh PLN, pemadaman bergilir, kekurangan daya listrik, kualitas pelayanan PLN yang masih rendah, pungutan liar dalam pemasangan jaringan dan fasilitas kelistrikan. Selain itu, bagaimana carut marutnya pengembangan energi terbarukan di Sulawesi Selatan.

Buku ini ditulis oleh beberapa jurnalis dan blogger masing-masing Eko Rusdianto, Suriani Mappong, Wahyu Chandra, Badauni AP, dan Nurbaya. Buku yang diterbitkan September 2017 ini diedit oleh Mustam Arif dan Anies Sjahrir. Buku dikemas dalam bentuk tulisan feature dengan gaya jurnalisme sastrawi.

Buku ini kemudian diluncurkan di Makassar pada 28 September 2017 dibarengi dialog publik tentang kelistrikan di Sulawesi Selatan. (baca: Dialog Kelistrikan dan Peluncuran Buku). Para narasumber dan peserta dialog pada peluncuran menilai buku ini memberikan kontribusi untuk perbaikan pembangunan energi dan pelayanan kelistrikan di Sulawesi Selatan. (sharif)

Last modified on Kamis, 26 Oktober 2017 08:00
Read 177 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan