JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Banyak Capaian Program Kemitraan Wallacea Featured

Senin, 31 Juli 2017 00:00 Written by  mus
Ketua Dewan Perhimpunan Burung Indonesia, Ani Mardiastuti menyarahkan gambar Burung Rongkong kepada Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang pada pembukaan seminar melestarikan keragaman hayati, di Makassar, 27 Juli 2017. Ketua Dewan Perhimpunan Burung Indonesia, Ani Mardiastuti menyarahkan gambar Burung Rongkong kepada Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu'mang pada pembukaan seminar melestarikan keragaman hayati, di Makassar, 27 Juli 2017.

JURnaL Celebes. Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Burung Indonesia), 27-28 Juli 2017 di Makasar, melaksanakan seminar dan evaluasi program enam bulanan yang dilaksanakan organisasi mitra di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Maluku Utara. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengukur sejuah mana capaian dan dampak dari Program Kemitraan Wallacea yang didukung  Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF). Hasil dari kegiatan ini akan dibawa ke pertemuan panel ahli, 8 Agustus 2017 di Jakarta. 

Kegiatan seminar 27 Juli 2017 melibatkan parapihak dan publik yang dibuka Wakil Gubernmur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu'mang, di Hotel Swiss Bellin. Semantara kegiatan review program dilaksanakan bersama organisasi mitra di Hotel Santika, 28 Juli. Sedangkan 29 Juli peserta dari mitra program mengunjungi lokasi pengembangan ekowisata karst di Rammang-rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. 

Dalam kegiatan seminar, organisasi-organisasi mitra yang telah selesai melaksanakan kegiatan tahun pertama, memaparkan capaian masing-masing. Banyak yang dihasilkan dalam program konservasi keragaman hayati di jalur Wallacea. Sebagagian mitra berhasil melakukan perubahan, terutama dengan program ini, dapat mestimulan masyarakat mulai berpihak pada upaya perlindungan keragaman hayati di wilayah-wilayah yang krisis ancaman.

Salah satu aspek penting yang menjadi bahasan dalam seminar maupun pada kegiatan evaluasi tengah program adalah keberlanjutan capaian. Organisasi mitra menghawatrikan pasca-program nanti, apa yang telah dicapai tidak akan berlanjut. Untuk menjawab kekhawatiran ini, para organisasi mitra menguatkan apa yang dicapai, terutama intergrasi dengan program pembangunan di daerah, atau dkungan lain. Dengan demikian, pasca-program, apa yang dicapai bisa berlanjut.

Menurut Team Leader Burung Indonesia untuk Kemitraan Wallacea, Adi Widyanto, Program Kemitraan Wallacea dilaksanakan Burung Indonesia dengan dukungan CEPF yang diluncurkan tahun 2015. Program ini merupakan skema hibah untuk memperkuat peran organisasi masyarakat sipil dalam pelestarian keragaman hayati. Wilayah kerja program adalah di hotspot Wallacea, yaitu kawasan biogeografi yang meliputi Sulawesi, Maluku dan Maluku Utara serta Nusa Tenggara hingga Timor Leste.

Program Kemitraan Wallacea telah memasuki paruh waktu, dari 60 bulan periode investasi di hotspot Wallacea. Karenanya, momentum ini merupakan saat untuk melakukan refleksi atas capaian, efektifitas strategi, baik strategi hibah, peningkatan kapasitas maupun pengarusutamaan isu konservasi, serta efisiensi dalam pengorganisasian hibah maupun program secara umum. (mus)

Last modified on Kamis, 17 Agustus 2017 11:26
Read 144 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan