JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Longsor Maliwowo, Musibah Lingkungan dan Tata Pemukiman

Minggu, 14 Mei 2017 00:00 Written by  mustam arif
Foto udara pasca-longsor di Desa Maliwawo, Kecamatan Angkona, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, 12 Mei 2017. (foto ini disebarkan lewat salah satu grup WhatsApp) Foto udara pasca-longsor di Desa Maliwawo, Kecamatan Angkona, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, 12 Mei 2017. (foto ini disebarkan lewat salah satu grup WhatsApp)

JURnaL Celebes. Bencana longsor di Dusun Harapan Makmur, Desa Maliwowo, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Jumat (12/05/2017) kembali mengingati kita agar selalu siaga, menjaga keseimbangan lingkungan, dan menata pemukiman. Bencana yang merenggut nyawa tujuh warga itu, sudah sering terjadi di mana-mana.

Tanggal 1 April 2017, longsor serupa terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menewaskan 28 warga. Longsor di Ponorogo dan di Maliwawo punya karakteristik yang sama. Tanah di tebing bukit bergeser dan meluncur menyapu pemukiman di lereng bukit.

Tim kaji cepat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), menyimpulkan sejumlah penyebab longsor Ponorogo. Di antaranya,  kondisi alam menunjukkan risiko tinggi, tingkat kemiringan tebing cukup curam, struktur batuannya berupa lapukan dari gunung berapi, curah hujan yang tinggi. Selain itu tata guna lahan di lereng perbukitan cukup memprihatinkan karena digarap warga dengan bercocok tanam tumbuhan akar pendek, terutama budidaya jahe.

Sedangkan penyebab bencana di Maliwowo menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Syamsibar, karena curah hujan yang tinggi, kemiringan bukit, kontur tanah yang labil, serta patahan-patahan di daerah kemiringan akibat erosi. 

Selain itu, pemukiman di Maliwawo juga berada di tebing bukit yang rentan terhadap bencana longsor seperti ini. 

Bencana di Maliwawo dan di Ponorogo kembali menjadi pembelajaran bagi kita dari bencana-bencana serupa yang terjadi sebelumnya. Setidaknya ada dua hal yang membutuhkan tindakan riil sebagai upaya mitigasi.

Pertama, dari sisi perbaikan lingkungan, pemerintah dan masyarakat sudah harus menata kembali tata guna lahan. Lahan perbukitan, terutama kawasan rentan, bebas dari tempat bercocok tanam, terutama tanaman akar pendek berupa palawija atau sayur-mayur. Hampir di semua perbukitan, pepohonannya dibabat habis, berganti tanaman jangka pendek, menyebabkan kontur tanah rentan bergeser.  

Kedua, menata pemukiman, agar masyarakat tidak bermukim di lereng-lereng bukit yang rentan. Sebab, di Sulawesi Selatan, ada kecenderungan masyarakat membangun rumah di pinggir jalan raya, meski areal itu berada di lereng bukit yang rentan.

Longsor Maliwowo dan dan hilangnya nyawa warga karena kita sering abai terhadap fungsi lingkungan dan tata pemukiman.

Last modified on Kamis, 18 Mei 2017 09:49
Read 242 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan