JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Ekowisata, Alternatif Menyelematkan Karst Pangkep

Minggu, 26 Maret 2017 00:00 Written by  admin
Suasana seri diskusi dengan topik melindungi kawasan karst di Kabupaten Pangkep yang dilaksanakan JURnaL Celebes di Warkop 722, Pangkep, Jumat (24/03/17). Foto-mustamarif Suasana seri diskusi dengan topik melindungi kawasan karst di Kabupaten Pangkep yang dilaksanakan JURnaL Celebes di Warkop 722, Pangkep, Jumat (24/03/17). Foto-mustamarif mustamarif

JURnaL Celebes. Pengembangan ekowisata menjadi salah satu alternatif untuk melindungi dan menyelamatkan kawasan karst di Kaupaten Pangkep dan Kabupaten Maros. Pemerintah daerah mestinya serius memoratorium izin pertambangan di kawasan karst.  Sebab kawasan karst menyimpan sumber air, kenakaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim, dan potensi ekowisata yang menjamin penghidupan masyarakat di kawasan ini dalam jangka panjang.

 

Demikian simpulan yang mengemuka pada seri diskusi tentang perlindungan dan penyelamatan kawasan karst di Pangkep dan Maros, yang dilaksanakan JURnaL Celebes, Jumat (24/03/17) petang di Warkop 722, Pangkep.

Dalam diskusi sebagai rangkaian kegiatan yang dilaksanakan JURnaL Celebes dan Burung Indonesia ini, narasumber Asmar Exwar Direktur Walhi Sulawesi Selatan menyatakan tidak bisa dimungkiri bahwa tambang sangat memberikan konstribusi PAD daerah yang sangat signifikan. Dengan kurang lebih 40 izin usaha pertambangan di kawasan karst Pangkep dan Maros kemudian menjadi ancaman serius kawasan karst di daerah ini. Karena itu upaya alternatif menjadi solusi sangat dibutuhkan.

''Ekowisata adalah salah satu alternatif. Sebab, kita tidak an sich melindungi kawasan karst. Sebab karst merupakan potensi yang memberi kehidupan kepada masyarakat. Hanya, saja kawasan karst yang bisa dikelola secara berkelanjutan, bukan dihancurkan. Sebab kalau hancur, hanya akan menguntungkan saat ini, tetapi tidak akan lagi memberi manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan,'' papar Asmar.

Dalam diskusi yang pesertanya didominasi oleh mahasiwa dan pemuda tersebut, juga mengemuka wacana tentang kesadaran dan persamaan persepsi tentang fungsi karst bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan karst dengan masyarakat yang ada di pesisir. Sebab ada kecenderungan masyarakat pesisir tidak mempedulikan funsgi karst. Masyarakat pesisir lebih cenderung berpikir kalau karst ditambang lebih cepat memberikan pendapatan kepada masyarakat maupun pemerintah daerah. Padahal, tanpa mereka sadari, air yang ada di pesisir kabupaten Pangkep, bersumber dari kawasan karst. Kawasan karst merupakan ‘galon’ air yang mensuplai air di wilayah Pangkep dan Maros lewat sungai-sungai bawah tanah.

Masyarakat mestinya diberi pemahaman bahwa pengelolaan alternatif seperti ekowisata, apabila dikelola dengan baik akan berdampak luas kepada masyarakat sekitar yakni menambah pendapatan, secara berkelanjutan. Tidak seperti hanya apabila ditambang akan merusak karst itu sendiri, yang berarti sama halnya memutus mata rantai sumber penghidupan. 

Sementara Direktur Eksekutif JURnaL Celebes, Mustam Arif menjelaskan serial diskusi ini merupakan kegiatan dari program JURnaL Celebes dan Burung Indonesia, didukung CEPF, yang dilaksanakan di Kabupaten Pangkep dan kabupaten Maros. Program ini untuk memberikan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah di Maros dan Pengkep, khususnya SKPD terkait serta stakeholder, untuk bersama-sama merencanakan pembangunan yang memperhitungkan pelestarian keragaman hayati di kawasan karts Maros dan Pangkep. Program memberikan fokus pada peningkatan kapasitas SKPD terkait dengan kegiatan berupa diskusi dan pelatihan, serta merancang input kepada kebijakan-kebijakan pembangunan di Maros dan Pangkep untuk mendukung pelestarian keragaman hayati di Maros dan Pangkep.

Mengapa mesti melestarikan keragaman hayati di kawasan karts Maros dan Pangkep? Sebab kawasan ini memiliki potensi luar biasa. Kawasan karts terindah kedua di dunia, dengan memiliki 709 jenis tumbuhan, 730 jenis satwa liar, 268 gua, 125 jenis kupu-kupu. Dengan potensi ini, kawasan karst Pangkep dan Maros menjadi areal penyimpanan dan penyuplai air untuk tiga wilayah yakni Pangkep, Maros dan Makassar. 

Program ini meyakini bahwa salah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan dan perlindungan kawasan karst Maros-Pangkep berkaitan keterbatasan dan perspektif konservasi serta sumber daya yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang menyeluruh mengenai status, keragaman hayati dan ekosistem karst, peluang serta tantangan yang dihadapi, dan model kelembagaan yang  ideal untuk dijalankan ke depan.*

Last modified on Selasa, 16 Mei 2017 04:23
Read 135 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan