JURnal Celebes

adalah sebuah organisasi dalam bentuk asosiasi yang terdiri dari wartawan dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) Sulawesi Selatan.

dibentuk pada 12 September 2002 di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagai forum independen yang mendorong penguatan masyarakat sipil dan kampanye keadilan sumber daya alam.

Visi

terwujudnya masyarakat yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam mendorong kebijakan dan pengelolaan lingkungan yang adil dan berkelanjutan.

Misi

mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem sebagai basis ekonomi.

Diseminasi Hasil Pembelajaran Kompleks Danau Malili

Sabtu, 25 Maret 2017 00:00 Written by  Admin
Danau Matano dari udara Danau Matano dari udara Ist

JURnaL Celebes. Perhimpunan Burung Indonesia dan Perkumpulan Wallacea didukung Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menggelar Lokakarya Diseminasi Capaian dan Hasil Pembelajaran Program Konservasi di Area Prioritas Kompleks Danau Malili  pada tanggal 24 Maret 2017 di Soroako.

Direktur Eksekutif Wallacea Palopo, Basri Andang menjelaskan, lokakarya ini digelar setelah setahun Burung Indonesia bersama mitra-mitranya yaitu Perkumpuan Wallacea Palopo, Fakultas Perikanan Unanda dan Fakultas Kehutanan Unanda  menjalankan proyek konservasi di area prioritas kompleks Danau Malili Kabupaten Luwu Timur. 

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyebarluaskan hasil pembelajaran program yang telah dicapai kepada  para pihak yang terkait baik di level kabupaten maupun provinsi Sulawesi Selatan.   Tema dari lokakarya yakni: Mewujudkan Pengelolaan Kompleks Danau Malili Secara Multipihak dan Berkelanjutan Demi Kelangsungan Hidup Bersama.

Lokakarya tersebut dihadiri Tim Leader CEPF Wallacea Adi Widiyanto dan tim Burung Indonesia, Kepala Bappeda Luwu Timur, Perkumpulan Wallacea, Fakultas Kehutanan Unanda,  Fakultas Perikanan Unanda, IBCD Jakarta, BLHD Sulsel, Bappedalda Luwu Timur, YBS Palopo, Pemerintah Desa Matano dan Nuha, dan Pokja Perlindungan Danau dari Desa Matano dan Nuha, Mongabay dan Jurnalis Lokal Lutim.

Pada kesempatan ini Kepala Bappeda Luwu Timur Drs. Muh. Abrinsyah, MM, menjelaskan urgensi perlindungan Kompleks Danau Malili yang kaya akan flora dan fauna endemik sebagai sebuah ekosistem yang utuh, bukan  hanya sekadar perlindungan badan danaunya semata akan tetapi lebih dari itu. Harus dilihat secara konferehensif mulai dari hulunya sampai ke hilirnya dan interaksi  sosial yang terjadi dalam ruang-ruang kehidupan yang ada di sekitar kompleks Danau Malili. 

‘’Apa yang sudah dilakukan oleh  Burung Indonesia bersama mitranya di Kompleks Danau Malilli perlu diapresiasi dan ditindaklanjuti dengan upaya yang lebih strategis dan nyata di lapangan sehingga apa yang dihasilkan Perkumpulan Wallacea, Fakultas Perikanan Unanda dan Fakultas Kehutanan jangan berhenti di tahap pembelajaran.  Kita perlu melanjutkan ke lokasi lain dan melibatkan lebih banyak pihak yang berkepentingan,’’ urai Kepala Bappeda Lutim ini. 

Sementara  itu, Tim Leader CEPF Wallacea, Adi Wijianto  menjelaskan, area Wallacea dan Komplek Danau Malili secara khusus adalah daerah yang terkenal dengan keendemikan flora dan faunanya. Banyak flora dan fauna yang hanya ditemukan di area ini dan tak ada di tempat lain. Jika hal ini tak segera dilindungi dan dilestarikan maka akan menyebabkan kepunahan dan kita tidak menemukan lagi di tempat lain.

Pada kesempatan itu, masing-masing mitra Burung Indonesia yakni Fakultas Perikanan Universitas Andi Djemma (Unanda), Fakultas Kehutanan Unanda, dan Perkumpulan Wallacea  menyampaikan capaian dan hasil pembelajaran dari program yang dilaksanakan. Presentasi dimulai oleh dua mitra dari Unanda menyampaikan hasil pembelajaran terhadap konservasi jenis flora dan fauna endemik. Fakultas Perikanan Unanda Palopo melakukan upaya konservasi wilayah sebaran jenis Ikan Buttini (Glossogobius matanensis) yang endemik di Danau Towuti melalui perdes dan pelibatan masyarakat lokal, sedangkan Fakultas Kehutanan Unanda Palopo melakukan konservasi  jenis tumbuhan endemk Rode (Vatica flavovirens), Dama’ dere (Vatica rassak) dan Mata Kucing (Hopea celebica) di Desa Nuha dan Desa Matano melalui perdes dan pelibatan masyarakat lokal, kemudian dilanjutkan presentasi dari Perkumpulan Wallacea yang memperkuat perencanaan penatagunaan lahan di Ekosistem DTA Danau Matano dan pengembangan ekonomi alternatife berupa lebah trigona di Desa Nuha dan Desa Matano.

Program Konservasi Area Prioritas Kompleks Danau Malili memokuskan program pada 3 upaya konservasi penting bagi ekosistem danau, yaitu konservasi jenis(spesies), konservasi tapak (site),  penguatan masyarakat melakukan pengelolaan yang  didukung oleh kebijakan tingkat desa maupun  kabupaten.  Diharapkan desiminasi ini dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak tentang model dalam upaya perlindungan ekosistem Kompleks Danau Malili kedepan.  

Menurut Abrinsyah telah banyak penelitian di Komplek Danau Malili oleh peneliti baik dari universitas dan lembaga penelitian yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri, namun sampai hari ini sangat minim kontribusi untuk melindungi dan melestarikan ekosistem danau. Hasilnya hanyalah doctor. Sudah puluhan doctor lahir dari Komplek Danau Malili namun belum banyak berkontribusi melindungi danau, sehinngga dengan adanya penatagunaan ruang secara partisipatif  bisa menjadi salah satu langkah baik dalam pengelolaan Komplek Danau Malili.

‘’Hasil peta penataan ruang desa Nuha dan Matano supaya segera diserahkan kepada Bappeda karena kita harus menjalankan kebijakan satu peta yang bawah kewenangan Badan Informasi Geospasial (BIG).  Hasil peta dapat menjadi acuan revisi RTRW Kabupaten yang bertujuan untuk pelestarian kompleks Danau Malili,’’ jelas Abrinsyah.

Kepala Bappeda juga mengharapkan kepada kelompok masyarakat yang sudah didampingi supaya mengawal hasil pembelajran perlindungan dan penataan ruang untuk ekosistem danau supaya dimasukkan kedalam musrembang desa. Kemudian akan di integrasikan kepada setiap SKPD untuk mennjadi program yang turut mendukung program pelestarian dan perlindungan ekosistem danau. Kompleks Danau Malili yang selama ini berada dalam kewenangan BKSDA dianggap tidak efektif dalam melakukan upaya pelestarian. Hingga perlu pelibatan dan  pastisipasi akademisi, NGO. Sebut saja Fakultas Kehutanan fokus pada tumbuhan endemik, Fakultas Perikanan fokus pada hewan air yang endemik, dan Perkumpulan Wallacea dalam bentuk penatagunaan lahan dan ruang di DTA Kompleks Danau Malili. (wallacea)

Last modified on Senin, 15 Mei 2017 13:18
Read 191 times
Rate this item
(0 votes)

Komentar

Foto Kegiatan